Sabtu, 17 Maret 2018

Resensi Film "EXODUS: Gods and Kings"


EXODUS : Gods and Kings

Resensi
Cerita tidak dimulai dengan bayi Musa yang dibuang disungai seperti pada umunya melainkan dimulai dengan persahabatan Musa dan Ramses, saudara tirinya yang sudah dewasa. Ramses adalah penerus ahli waris dari Firaun, Raja Mesir yang sedang berkuasa. Sedangkan Musa adalah seorang jenderal perang yang selalu memenangkan pertarungan.

Raja Firaun digambarkan tidak sejahat seperti cerita pada umumnya melainkan penuh pengertian dan bahkan akan mewariskan tahta kerajaan kepada Musa karena karakter dan pribadi Musa yang berbeda dengan Ramses anak kandungnya sendiri. Rasa persahabatan dan persaudaraan menjadi berubah ketika akan berperang kepada suku Het. Tukang ramal kerajaan meramalkan bahwa pemimpin kerajaan akan diselamatkan oleh seseorang dan seseorang itu akan menjadi raja. Hal ini yang membuat Ramses resah ,bahkan Ramses meminta Musa untuk tidak menyelamatkan dirinya bila terjadi sesuatu.

Mereka beserta pasukan menyerang suku Het dan berhasil memenangkannya. Walaupun demikian Ramses nyaris terbunuh oleh suku Het dan disaat yang tepat berhasil diselamatkan oleh Musa. Ramses yang percaya akan ramalan itu makin membuat dirinya kalap dan nyaris membunuh Musa dalam peperangan tersebut namun tidak jadi. Kebencian Ramses yang menginginkan tahta kerajaan makin memuncak dengan terjadinya ramalan tersebut. Musa meyakinkan bahwa dirinya tidak ingin menjadi raja dan mendukung Ramses menjadi raja.

Raja Firaun mendengar tentang penyelamatan Musa terhadap Ramses dan berterima kasih. Raja Firaun mengutus anaknya pergi ke kota Phitom namun Ramses agak keberatan dan sebaliknya Musa menawarkan diri untuk pergi kesana. Musa menemukan banyak orang Israel dijadikan budak dan disiksa disana. Hati nurani Musa mulai terbuka dengan kejadian tersebut dan merasa tidak nyaman dengan situasi dan kondisi yang dilihatnya. Musa juga bertemu dengan orang-orang yang dituakan dari bangsa Israel dan salah satunya adalah Nun. Nun memberitahukan rahasia diri Musa mengenai asal muasalnya yaitu anak orang Israel yang dibuang ke sungai dan dipelihara oleh Bithia, seorang putri. Bithia juga menjadikan kakak Musa yang bernama Miriam sebagai pembantunya sekaligus pengasuh Musa. Tentu saja Musa tidak percaya begitu saja.

Musa bertemu dengan gubernur Hegep dan mencurigai bahwa gubernur hegep korupsi dengan memperkaya dirinya sendiri dan hidup laksana raja. Dia berusaha menyuap Musa agar tidak dilaporkan kepada Raja Firaun namun Musa tidak menghiraukannya.

Sekembalinya Musa ke Mesir maka Raja Firaun dalam kondisi sakit dan selang beberapa lama kemudian meninggal dunia. Selanjutnya Ramses dinobatkan sebagai Raja Mesir. Namun tiba-tiba gubernur Hegep datang dan melaporkan bahwa Musa adalah orang Israel. Hegep berhasil membayar mata-mata saat datang ke Phitom dan mengetahui pembicaraan antara Nun dan Musa.

Ramses yang terobsesi untuk menyingkirkan Musa seolah-olah mendapatkan peluru amunisi untuk menghabisinya. Dengan mengancam Miriyam, kakaknya yang akan di potong tangannya maka terpaksa Musa mengalah dengan mengaku sebagai orang Israel. Musa akhirnya diusir dari Mesir demi menyelamatkan kakaknya.

Musa berkelana jauh melewati daerah pegunungan dan sampailah di daerah Midian. Musa berkenalan dengan Zipporah setelah membelanya dari para pengganggu saat mengambil air sumur. Selanjutnya terjalinlah asmara dan melakukan perkawinan. Mereka dikaruniai anak bernama Gershom. Musa yang tidak percaya akan Tuhan diberitahu bahwa dilarang naik ke bukit dekat rumah karena merupakan milik Tuhan. Namun saat hujan deras kambing peliharaannya lari kearah bukit tersebut dan Musapun mencarinya. Tiba-tiba terjadi longsor. Dalam keadaan sakit dia mendapat penglihatan dari Tuhan yang berwujud anak kecil seusia Gershom anaknya. Musa diingatkan akan tugasnya untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan yang sudah terjadi ratusan tahun di Mesir.

Musa tersadar bahwa dia merupakan orang pilihan Tuhan. Berpamitan kepada istrinya dan anaknya untuk pergi ke Mesir namun tidak disetujui dan terpaksa pergi dengan tekanan batin. Musa masih menyaksikan adanya perbudakan dan melihat Hegep menjadi salah satu menteri yang diangkat oleh Ramses. Musa meminta baik-baik agar membebaskan mereka dari perbudakan namun tidak dihiraukan Ramses bahkan Ramses semakin murka karena melihat Musa masih hidup dan kini muncul kembali.

Musa merekrut dan melatih pengikutnya untuk menjadi tentara dan melakukan perang gerilya (perangs secara diam2) terhadap Ramses. Setiap Musa dan tentaranya berhasil melakukan sabotase atau perlawanan maka sebaliknya Ramses melakukan pembalasan dengan menggantung orang-orang Israel. Musa dicari dimana-mana dan secara membabi buta orang-orang Israel dibunuh oleh tentara Mesir. Puncaknya Tuhan marah akan upaya Musa ini dan Musa disuruh diam saja untuk melihat kekuasaan Tuhan.

Musa tidak melakukan mukjijat kepada bangsa Mesir seperti pada cerita umumnya melainkan Tuhan yang memberikan azab kepada bangsa Mesir. Musa tidak menggunakan tongkat sebagai senjata melainkan pedang pendek. azab pertama yaitu air menjadi darah. Air menjadi darah karena buaya-buaya memangsa orang-orang yang berada di air sehingga darahnya menyebar dan air sungai dan danau berwarna merah.

Azab kedua berupa munculnya banyak katak dimana-mana termasuk di istana Raja Ramses. Azab ketiga yaitu munculnya lalat dimana-mana. Azab keempat adalah penyakit sampar pada ternak yang mengakibatkan kematian. Azab kelima yaitu hujan es. Azab keenam yaitu muncul banyak belalang. Azab ketujuh yaitu kematian anak sulung.

Ada kalanya Musa tidak setuju terhadap perbuatan Tuhan dan sebaliknya Tuhan juga tidak selalu setuju dengan perbuatan Musa. Musa tidak ingin menyakiti orang-orang yang telah dikenalnya termasuk juga tidak setuju kematian anak-anaknya. Akhirnya Ramses menyetujui Musa untuk segera keluar dari Mesir bersama budak-budak Israel. Namun dibalik itu semua ada rencana jahat dan balas dendam dari Ramses.

Begitu Musa dan pengikutnya sudah keluar dari tanah Mesir maka Ramses beserta pasukannya mengejar untuk membunuh semuanya. Perjalanan Musa terhalang oleh bentangan air laut yang luas. Putus asa dan bingung sempat menderanya bahkan pedangnya pun dibuang ke laut. Namun sebuah meteor jatuh di laut dan menyebabkan air laut menyurut. Musa dan pengikutnya menyeberangi laut yang sedang dangkal sebatas kaki. Ramses dan pasukannya mengejar sampai di tengah. Gelombang Tsunami datang dan menghancurkan pasukan Ramses. Musa dan Ramses yang sedang berhadapan terkena hantaman gelombang juga. Tak disangka keduanya selamat. Musa terdampar di pantai tujuan sedangkan Ramses terdampar di pantai asal.

Selanjutnya Musa sadar bahwa usianya makin bertambah dan suatu saat nanti pasti ada yang memberontak karena jumlah pengikutnya yang banyak. Untuk itu dibuatlah 10 perintah Tuhan di atas pahatan batu sebagai lambang dan aturan bagi pengikutnya. Musapun melanjutkan perjalanannya bersama pengikutnya menuju tanah air mereka.


10 nilai Baik dan Buruk
Baik:
1. Musa dan Ramses bersahabat saat masih kecil
2. Raja firaun yang penuh pengertian
3. Musa menyelamatkan Ramses saat hampir terbunuh oleh suku Het
4. musa menawarkan diri untuk pergi ke kota Phitom
5. Musa tidak mau di suap untuk tutup mulut mengenai tindakan Hegep
6. Musa meminta Ramses untuk membebaskan budak dengan baik baik
7. Musa memperingatkan Ramses tentang azab yang akan datang
8. Musa memimpin kaum budak untuk kembali ke kota asalnya
9. Musa tidak takut akan tentara ramses karena percaya akan tuhan
10. Musa membuat 10 perintah tuhan diatas batu

Buruk :

1. Ramses yang haus akan kekuasaan
2. takut akan ramalan, ramses hampir membunuh musa di medan perang
3. Hegep memperkaya diri dengan cara korupsi
4. Ramses terobsesi menjadi raja hingga ingin membunuh Musa
5. Ramses mengusir Musa dengan mengancam memotong tangan Marriyam
6. Ramses murka saat melihat Musa masih hidup dan kembali ke kerajaan
7. Ramses mengancam Musa dengan menggantungkan orang orang yahudi
8. Ramses merasa sebagai tuhan tidak takut dengan azab yang akan datang
9. Ramses merasa dendam dengan Musa
10. Ramses berniat untuk membunuh Musa dan seluruh pengikutnya


By: Arditya N

Sejarah Lengkap Kerjaaan Ternate dan Tidore


A.   Letak Kerajaan
Secara geografis Kerajaan Ternate dan Tidore memiliki letak yang sangat penting dalam dunia perdagangan pada masa itu. Kedua kerajaan ini terletak di daerah Kepulauan Maluku.
Pada masa itu, Kepulauan Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar, sehingga dijuluki sebagai "the Spice Island". Rempah-rempah menjadi komoditi utama dalam dunia pelayaran perdagangan saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang ke daerah Timur bertujuan untuk menemukan sumber rempah-rempah. Oleh karena itu/ muncullah hasrat untuk menguasai rempah-rempah tersebut.Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

B. Kehidupan Politik
Di Kepulauan Maluku banyak terdapat kerajaan kecil, di antaranya Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima, yaitu persekutuan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Ternate, Obi, Bacan, Seram, dan Ambon. Sementera itu, Kerajaan Tidore memimpin Uli Siwa, yang berarti persekutuan sembilan bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Makayan, Jahilolo atau Halmahera, dan pulau-pulau di antara daerah itu sampai dengan Irian Barat.
Ketika bangsa Portugis masuk ke Maluku, Portugis langsung memihak dan membantu Ternate pada tahun 1521. Hal ini dikarenakan Portugis mengira Ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa Spanyol yang ketika datang di Maluku langsung membantu Tidore. Terjadilah perselisihan antara kedua bangsa kulit putih tersebut di daerah Maluku. Untuk menyelesaian perselisihan kedua bangsa itu, Paus turun tangan dan menen-tukan garis batas wilayah timur melalui Perjanjian Saragosa. Dalam Perjanjian Saragosa dinyatakan bahwa bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap menguasai daerah-daerah di Maluku. Sultan Hairun Untuk dapat memperkuat kedudukannya di Maluku, Portugis mendirikan benteng yang diberi nama Benteng Santo Paulo. Namun semakin lama tindakan Portugis semakin dibenci oleh rakyat dan bahkan oleh para pejabat Kerajaan Temate. Sultan Hairun, penguasa Ternate, semakin bertambah bend (anti) melihat tindakan-tindakan dan gerak-gerik bangsa Portugis. Oleh karena itu. Sultan Hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa Portugis.
Sultan Baabullah Dengan kematian Sultan Hairun, rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putra Sultan Hairun), bangkit menentang Portugis. Tahun 1575 M, Portugis dapat dikalahkan dan diberi kesempatan untuk meninggalkan benteng.
Pada tahun 1578 M, bangsa Portugis juga ingin mendirikan benteng di Ambon, tetapi tidak lama kemudian bangsa Portugis pindah ke daerah Timor Timur dan berkuasa di sana sampai tahun 1976. Sesudah tahun 1976 wilayah Timor Timur berintegrasi ke dalam wilayah Republik Indonesia hingga tahun 1999. Akan tetapi, setelah melalui jejak pendapat 1999, rakyat Timor-Timur memilih merdeka.

C.     Kehidupan Ekonomi
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.
Pada abad ke-14 M di kawasan Maluku Utara telah berdiri empat kerajaan terkenal, yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. Masing-masing kerajaan dikepalai oleh seorang kolano. Menurut cerita rakyat Maluku, keempat kerajaan tersebut berasal dari satu keturunan, yaitu Jafar Sadik. Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Ternate peranannya lebih menonjol karena penduduknya bertambah banyak dan berhasil mengembangkan perdagangan rempah-rempah. Rempah-rempah adalah tanaman yang memiliki zat yang dapat digunakan untuk member bau atau rasa khusus kepada makanan (menjadi bumbu masak) dan dimanfaatkan untuk pengobatan serta dapat juga menghangatkan tubuh. Contoh rempah-rempah, yaitu cengkih dan lada. Pada saat itu, rempah-rempah umumnya diperlukan bangsa-bangsa Eropa sehingga harganya cukup tinggi dan telah membuat makmur rakyat di Maluku.
Kemajuan Kesultanan Ternate ternyata membuat cemburu kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Beberapa kali Ternate dan Tidore, Bacan, dan Jailolo terlibat dalam peperangan memperebutkan hegemoni rempah-rempah. Akan tetapi, mereka mampu mengakhirinya di dalam perundingan di Pulau Motir. Dalam Persetujuan Motir ditetapkan Ternate menjadi kerajaan pertama, Jailolo kedua, Tidore ketiga, dan Bacan yang keempat.
Pada pertengahan abad ke-15 M kegiatan perdagangan rempah-rempah di Maluku semakin bertambah ramai. Banyak sekali pedagang Jawa, Melayu, Arab, Cina dan India yang dating ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Sebaliknya, mereka membawa beras, tenunan, gading, perak, manic-manik, dan piring mangkuk berwarna biru buatan Cina. Bangsa-bangsa di Maluku amat membutuhkan barang tersebut, terutama beras karena areal Maluku lebih banyak digunakan untuk penanaman rempah-rempah daripada penanaman beras. Kerajaan-kerajaan di Maluku sangat akrab dalam menjalin hubungan ekonomi dengan para pedagang dari Jawa semenjak zaman Kerajaan Majapahit. Bandar-bandar seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban sering sekali dikunjungi para pedagang Maluku. Sebaliknya, pedagang-pedagang dari Jawa datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan kedua belah pihak ini sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran agama Islam ke Maluku.
Di dalam kitab Sejarah Ternate diterangkan bahwa Raja Ternate yang pertama kali menganut agama Islam adalah Zainal Abidin (1465-1486 M). Sultan Zainal Abidin semasa belum masuk Islam bernama Gapi Buta dan setelah meninggal beliau disebut Sultan Marhum. Raja Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah Cirililiyah yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Jamaluddin.
Ketika Ternate di bawah kekuasaan Sultan Ben Acorala dan Tidore di bawah Sultan Almancor, keduanya berhasil mengangkat kerajaan menjadi negeri yang sangat makmur dan sangat kuat. Kedua bangsa ini memiliki ratusan  perahu kora-kora yang digunakan untuk berperang ataupun mengawasi lautan yang menjadi wilayah dagangnya.  Di ibukota Ternate, yaitu Sampalu banyak didirikan rumah-rumah di atas tiang yang tinggi-tinggi dan keratin yang dikelilingi pagar-pagar. Begitu juga kota di Tidore yang dikelilingi pagar tembok, parit, benteng, dan lubang perangkap sehingga sukar untuk ditembus musuh. Ternyata, kemajuan kedua kesultanan tersebut menjurus kepada perebutan pengaruh dan kekuasaan terhadap daerah di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam abad ke-17 M muncullah dua buah persekutuan yang terkenal dengan sebutan Uli Lima danUli Siwa. Persekutuan Uli Lima dipimpin oleh Ternate dengan anggota Ambon, Bacan, Obi, dan Seram. Persekutuan Uli Siwa dipimpin oleh Tidore dengan anggota yang mencakup Makean, Halmahera, Kai, dan pulau-pulau lain hingga ke Papua bagian barat.
Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Sultan Baabullah, sedangkan Kesultanan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku. Persaingan di antara kedua kesultanan tersebut dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa asing dari Eropa terutama Spanyol dan Portugis dengan cara mengadudombakannya. Tujuannya tidak lain adalah ingin memonopoli daerah rempah-rempah tersebut.

D.    Kehidupan Sosial
Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius.Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa.
Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat.
Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.

E.     Kehidupan Budaya
Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore.

1.      Kerajaan Ternate
*      Awal Perkembangan Kerajaan Ternate
Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.
*      Kemunduran Kerajaan Ternate
Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

2.      Kerajaan Tidore
*      Awal Perkembangan Kerajaan Tidore
Kerajaan tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.
Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

*      Kemunduran Kerajaan Tidore
Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.


Keyword: Makalah mengenai kerajaan Ternate dan Tidore, Karya Tulis, Sejarah Lengkap, Kelas XI. SMP, SMA

Contoh Report Text of Cendrawasih "The Bird of Paradise"

Hasil gambar untuk cendrawasih

CENDRAWASIH

(By: RayhanSultanD "rayhandeyis.blogspot.com")

The bird of paradise or usually known as Cendrawasih is one of the most magnificent animals which can be found in Eastern Indonesia (Papua), New Guinea, and Eastern Australia. Its beautiful plumage makes everyone amazed with this marvelous bird.  Cendrawasih is a typical bird of Papua, member of family Paradisaeidae of the order Passeriformes. There are around 13 genus that divided into 43 species of cendrawasih which lives in the forest, from sea level to mid-mountain forest.

Cendrawasih, the birds of paradise have a various type and size. From the king of bird paradise (cicinnurus regius) at 50gr and 15cm long to the curl crested manucode (manucodia comrii) at 430gr and 44cm. The longest species is refer to the male black sicklebill, with its long tail at 110cm. In most species, male cendrawasih usually have longer and larger tails than the female. They usually have different kind of bills too. Bills may be long and curved or small and slim, depending on their sexes, species, and diets.
Cendrawasih is omnivore. Although its diet is dominated by fruit and small amount of nectar, small arthropods like bug, cricket, spider, centipede, and other insect may also be taken. The ratio of two diet types is according to its species, some will eat more fruits than insects and others will eat more insects than fruits.  This ratio will affect to the other behavior of this bird too, for example the insectivores often have lonely and solitary live, while the frugivores often live together and more socialable.

The male cendrawasih usually have more stunning plumage than the female. They have black, red, orange, yellow, white, blue, green, and purple plumage. The beauty of the colorful plumage is often used to draw attention of the female and ritualized mating dances.
Males are polygamous in some species, but monogamous in monomorphic species. Hybridisation is frequent in these birds. Many hybrids have been described as new species.
Females lay eggs in different amount, depending on it species. For many species, it is almost just 1 egg, but smaller species of cendrawasih may produce 2-3 eggs Eggs hatch after 16-22 days, then the young try to fly alone and leave the nest between 16-30 days of ages.

Because of the Birds unique and stunning colors, they have been hunted for centuries, their plumage used for women’s fashionwear, decoration, and supposed mystical powers. There was once a myth that the birds had come from the gods and never touched the earth, and this myth only served to accentuate the value of the birds until their plumage were in such demand that the species nearly reached extinction. Birds of Paradise are currently listed as endangered species, but this has not stopped the illegal trade and export of the birds on the black market

Keyword: Contoh report text sederhana, burung cendrawasih, deskripsi, the bird of parasdise from Indonesia, tek dekripsi mengenai burung cendrawasih, contoh teks report, report text panjang, pendek..

Desc: Adapted from many sources
Pict: hargaburung.id