Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tulisan Sahabat RDBlog: Cerpen / Cerita Pendek / "Dalam Diamnya"

DALAM DIAMNYA


Seorang gadis bernama Rela, dia adalah gadis yang cantik jelita lahir dari keluarga yang terlihat sempurna. Hari ini adalah hari yang bersejarah baginya, dia masuk ke sekolah baru. Itu adalah sekolah impian Rela sejak ia TK. Ia pernah mengatakan ke pada bundanya “Rela nanti mau sekolah disitu ya bun, soalnya sekolahnya luas benget rela bisa lari kemana mana ada ayunannya lagi”. Siapa sih yang tidak senang dengan sekolah baru, apalagi sekolah yang diimpikannya ?


Rela pun begitu senang saat memasuki gerbang sekolah salah satu sekolah dasar negri di dekat rumah nya, salah satu sekolah negri favorit di derahnya. Ia begitu riang sorot matanya sangat gembira. Bel masuk pun berbunyi, “Kring kring!” tanda harus berbaris.
Rela pun berbaris, ada yang mencuri perhatiannya. Seorang lelaki sederhana terlihat oleh mata jernihnya. Rela sangat terpesona dengannya. Seorang leleki yang tak tampan tapi berwibawa. Rela tak tau namanya, “mungkin ia teman yang mengasyikkan, aku menyukainya” batinnya berkata. 

Rela sangat mengaguminya, ia ingin terlihat lebih dimata lelaki itu dibandingkan dengan teman yang lainnya. Apakah ia bisa sedangkan teman wanita yang lain juga mengaguminya. Lelaki itu sangatlah pintar, selalu di puja oleh guru dan juga soleh, suaranya bagus sekali ketika mengaji. Memang aneh, anak seumur jagung yang masih berseragam putih merah tertarik dengan seorang lelaki teman sekelasnya. 

Hari demi hari berganti, Rela tak begitu mengenalnya. Rela memang banyak bicara tapi hanya pada keluarganya, ia adalah sosok yang sangat pendiam jika di sekolah. Rela juga bukan anak yang pintar karena itu ia tak berani mendekati lelaki itu, lelaki yang menggumkan. Tak ada kenangan manis bersamanya, hanya sebatas memandang mata nya yang jernih saja, jantungnya berdetak dengan kencang.

Tahun demi tahun berganti, sampai dimana hari kelulusan itu tiba. Rela tak pernah sedikit pun mengungkapkan isi hatinya kepada lelaki itu. Walau temannya suka meledekinya seperti “cie Rela” layaknya anak SD kebanyakan. Walau begitu rela hanya menyangkal, “apaansih orang aku gak suka sama dia”. 

Kelulusan sekolah pun dilaksanakan dengan meriah. Dimulai dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Dihalaman sekolah yang sederhana itu tempat dimana 6 tahun bocah-bocah kecil berseragam putih merah bersama menjalin suka duka. Peraih nilai UN tertinggi pun dipangil oleh sang guru, ya dia lah si laki-laki jenius itu.

Tidak lama memang tapi disana lah rela terakhir bertemu dengan seorang Adanu. Lelaki cinta pandangan pertama Rela yang tak pernah terungkap. Adanu yang berarti cahaya, dan Rela yang berarti ikhlas. Rela mengikhlaskan Adanu cahayanya.

15 tahun setelah pertemuan terakhir mereka, tak ada yang bisa menggantikan Adanu di hati Rela. Memang banyak yang menyukai Rela, tapi untuk Rela hanya Adanu seorang yang berada di hatinya. Toh yang dipikirkannya hanya sekolah dan sekolah membanggakan orang tuanya. Rela binggung apakah ini perasaan yang dinama kan cinta? Atau hanya kagum kepada sosok sempurna Adanu. Meskipun Rela tak pernah mempunyai kenangan indah bersama Adanu, tetapi Rela masih saja mengharapkan sosok Adanu. 

Kini mereka semua telah dewasa memiliki kehidupan masing - masing. Rela tak tau bagaimana kabar Adanu hingga saat ini. Ketika Rela sedang bosan di depan layar laptopnya, ia iseng untuk melihat lihat teman lama nya. Sosok Adanu terlintas dikepalanya. Ia mencari di mesin pencarian google dan menemukan Adanu di sana. Ya sosok laki-laki yang dikagumi Rela kini tersaji di layar laptopnya. Lelaki yang membuat jantung Rela bergetar saat memandangnya, lelaki yang ingin dipandangi rela setiap saat, lelaki yang menjadi semangatnya agar tetap berjuang menghadapi hidup yang penuh tantangan, lelakinya, lelaki pujaan hatinya.

Adanu kini telah sukses mencapai karirnya. Rela tau ia sangat ingin mempunyai usaha sendiri, katanya “ Yah supaya bisa memperkerjakan orang, tidak hanya bekerja pada orang, memang enak di atur-atur” itu lah jawaban seorang bocah SD kepada anak perempuan yang bukan apa-apa saat ditanyai “kamu kalo gede mau jadi apa?”.

Rela sangat kagum kepada sosok Adanu yang sangat dewasa, bijaksana, dan tak banyak bicara. Tapi kini Rela harus mengikhlaskan cahayanya untuk sekian kali. Karena ia ingin dijodohkan atau di taarufkan atau... apalah itu namanya semacam itu toh rela bukan orang di zaman Siti Nurbaya, walau pun itu yang diajarkan oleh agama nya. Tapi menurut rela itu kurang masuk akal untuk zaman sekarang, lelaki yang sudah kita kenal dekat saja tak sebaik yang dikira apalagi lelaki yang belum pernah kita kenal. Tapi ia tak mau durhaka yaaa jadi ikut saja apa kata bundanya.

Bundanya berkata bahwa yang akan dijodohkan adalah sosok yang dikagumi Rela. Tapi Rela tak pernah mengerti siapa dia, toh Rela tak pernah merasa mengngagumi siapa pun. Katanya dia yang meminta untuk dinikahkan dengan Rela. Entah kenapa Rela merasa ada yang mengganjal dihatinya.

Disinilah tempat mereka bertemu di sebuah restoran Itali di daerah Kemang, lelaki yang ingin dijodohkan dengan rela sudah datang. Tak terlihat asing dimatanya apakah itu dia lelekinya sang pujaan hatinya, cinta pertamanya. Apakah ia yang juga menjadi cinta terakhir Rela sebelum ia merasakan cinta yang lain.

Yaa laki-laki itu disini bersamanya duduk berdampingan. Lelakinya. Rela tak menyangka dengan kenyataan ini. Lelaki itu sangat dewasa. Apakah dia imam untuk seorang Rela yang membimbing Rela ke surgaNya. Apakah jodohnya sudaah didepan mata? Rela berharap bahwa dia lah yang menjadi jodohnya kelak.

Apa kalian tau apa yang membuat seorang Adanu mencintai Rela diam-diam sampai, memutuskan untuk melamar rela kepada ibunya? Padahal mereka tak pernah saling mengenal? Yaaa itu adalah senyum dan keceriaan seorang Rela yang menarik perhatiannya. Just keep smile, sesungguhnya senyum mu akan memberi kebahagian dan kehangatan untuk orang lain.  

Apakah kisah cinta impian Rela akan terwujud? Ya kisah cinta dalam diam seorang Ali kepada Fatimah, kisah cinta dalam diam nya. Kisah yang tak pernah diketahui oleh siapapun, kisah yang dilapisi oleh kekuatan iman dan ketulusan hati mencintai seseorang tak lebih dariNya. Jodoh terbaik yang di pilih tuhan untuk Rela begitupun untuk Adanu. “Sesungguhnya tuhan mu akan memilih jalan yang terbaik, bukan jalan yang kau ingin kan karena jalan yang kau inginkan belum tentu baik untuk mu”. 

Dengan 963 kata, Rela menyampaikan kisahnya kepada Adanu lelakinya. Lelaki pujaan hatinya lelaki dalam diam seorang Rela. Mereka yang sudah berada di satu titik. Bukan lagi akhir dari sesuatu yang tidak bermula, namun awal dari sesuatu yang tidak pernah berakhir. Karena tak ada kisah yang benar – benar berakhir. Tukang bubur naik haji saja tak pernah berakhir apalagi kisah cinta mereka. 


By:
Nama: Aurellia Nadhira Riant Wardani
Alamat : Jl. Damai No.52 Rt.14/03 Kp.gedong Ps. Rebo Jakarta Timur
Tempat Tanggal Lahir : 23 Oktober 2000
Asal Sekolah : SMAN 14 Jakarta


MAU TULISAN TEMEN-TEMEN DIMUAT JUGA? Ayooo kirimkan tulisan temen-temen ke msultandeyis@gmail.com, boleh artikel, berita, cerpen, puisa, dan tulisan lainnya.. Bagi temen2 yang beruntung akan di muat di blog ini. Salam Sahabat RDBlog

Rabu, 04 Juni 2014

Cerpen "Mencari Arti Sebuah Hidup"

 Mencari Arti Sebuah Hidup
(Oleh: M Rayhan Sultan Deyis)

Burhan, ya Burhan akulah si Burhan itu, tak terasa memang waktu bagaikan hempasan angin yang sangat kencang, entah sudah berapa kali jarum jam berputar, jantung berdetak, nafas keluar dan masuk. Ya memang begitu hidup bagai air yang mengalir di tengah sungai yang jernih mengelilingi tepi gunung hingga laut lepas yang luas.

Lebih dari 16 tahun sudah ku menginjak bumi ini, melihat, mendengar, merasa dengan berbagai indraku tapi apalah arti sebenarnya hidup ini... Sebuah pertanyaan sederhana yang diriku tak tahu apa jawabnya. Hal itulah yang memulai semua cerita ini.

Diriku memanglah tipe orang yang selalu ingin tahu, bertanya dan selalu ingin tahu apa jawabannya. Sewktu ku kecil saat berusia sekitar 4 tahun ku bertanya kepada bu ninis, guru TKku dulu, dengan polosnya aku bertanya "Bu kita itu apa?" Lalu ibu itu menjawab dengan sabarnya "Kita ini manusia Burhan" jawabnya merasa kurang puas ku bertanya lagi "Untuk apa kita jadi manusia bu?", "Ya untuk mengenal, bermain dan belajar", "Oh, seperti itu ya bu" menutup pembicaraan itu. Ya aku tahu kita di sini untuk main belajar, dan punya teman.

Tapi saat aku berusia 10 tahun benakku berpikir bahwa untuk apa hidup jika hanya untuk bermain, belajar, dan mengenal. Oleh karena itu ku bertanya kepada Mr.Sofyan "Mr, Hidup itu untuk apa?", "Hidup adalah keindahan Burhan, kita bisa merasa, mencium, mendengar, melihat, dan meraba. Hidup itu adalah saling mengasihi satu sama lain", "Oh seperti itu ya mr". Kini ku puas mendengar penjelasan Mr.Sofyan itu memang hidup ini indah.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit berhamburan, jam demi jam pergi. Diriku sudah makin besar, 13 tahun usia ku, ya kini ku duduk di bangku SMP berbaju putih dan bercelana biru gelap. Ya setiap hari kujalani hidup ini pergi sekolah, upacara, berorganisasi, bermain dan belajar namun setahun sudah ku duduk di bangku ini ku merasa bahwa hidup ini tidak indah, tak menyenangkan sedikit pun, hanya berbagai masalah yang kutemui setiap harinya, duluku berpikir bah jawaban Mr. Sofyanlah yang paling tepat tapi kini tidak lagi ucapannya tidak sesuai dengan apa yang kualami.

Kini diriku dilanda kebingungan, kepayahan, dan ketidak tahuan akan hidup, ku tak tahu ingin bertanya kepada siapa arti sebuah hidup ini. Namun ada satu orang yang selalu ada untuk menghibur, membantu, dan membuat diriku tetap berani mengahadapi segala tantangan ini, ya dialah satu-satunya orang yang dapat menghibur diriku dan satu-satunya orang yang selalu terbesit dalam pikirku. Di usiaku yang ke empat belas tahun aku sadar bahwa hidup tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi hatilah yang dapat menjelaskan semua berkat dirinya ku tahu apa arti hidup.

Namun di usiaku yang ke lima belas tahun, aku harus pindah ke suatu daerah jauh dari kota ini terpaksa ku harus meninggalkan sekolah tercinta ini di awal semester kelas 9, namun hidup adalah sebuah kenyataan terpaksa ku harus meninggalkan orang yang telah memberi ku arti hidup sebenarnya, sedih menyelimuti perjalananku meninggalkan kota ini tapi apa daya kuharus pergi.

Kini ku berusia enam belas tahun bersekolah jauh dari SMP ku dulu namun masih ada seseorang yang kuingat, seseorang yang memberitahu aku apa arti hidup, oleh karena itu dimasa liburku ini ku bertekad bulat ingin ke Jakarta mencari dirinya, seseorang yang telah memberi tahuku apa arti hidup... Wahai alam kehidupan pertemukanlah karena dirinyalah yang memberitahuku apa arti hidup.

Ya kini ku sedang mencarinya, hanya sebuah tulisan inilah yang mengiringiku dalam mencari dirinya, berharap dapat bertemu dan mengucapkan suatu hal kepada dirinya. Mengucapkan perasaanku.

Selasa, 08 April 2014

Cerpen "Sekolahku Dulu"

 Sekolahku Dulu
(Karya: M Rayhan Sultan Deyis)

Namaku Burhan, kini aku duduk di bangku kuliah di salah satu kampus terkenal di Bandung, kini hanya setumpuk kertas yang bernama skripsi yang perlu ku selesaikan sehingga aku memperoleh gelar sarjana itu, berbekal laptop merah kecil hadiah pemberian ayah sewaktuku masih berusia 9 tahun, tak terasa memang makin lama diriku makin besar.

Burhan itulah namaku, nama pemberian dari seorang ayah yang gemar membaca pula. Aku memiliki 3 adik, 2 laki-laki dan 1 perempuan, sejak kecil orang berkata bahwa aku adalah anak yang pendiam padahal sebenarnya diriku memiliki sejuta perasaaan yang ingin ku ungkapakan, namun bagaimana sejak kecil memang aku sudah terlatih untuk tidak perlu berbicara yang banyak, cukuplah bicara seperlunya.

Ayahku hanyalah seorang pegawai disalah satu bank tak terkenal di jakarta, ibuku hanya sekedar ibu rumah tangga. Namun sejuta kasih sayang mereka berikan kepada diriku dan adik-adikku sehingga cukuplah bagi kami untuk hanya sekedar bercanda ria di rumah, tak perlu pergi ke kota untuk bertamasya ke gedung yang menjulang tinggi itu.

Ya, Burhan nama yang sangat bermakna bagi diriku. Ada sebuah perasaan yang sangat ingin ku lontakan saat aku masih duduk di bangku SMP. Diriku memang bukanlah pendiam hanya saja tidak ingin terlalu mencari sensasi atau ulah. Sahabatku bahkan lebih dari sahabat Nidya namanya sebuah nama yang indah yang selalu terniang dalam pikirku dimanapun. Ia memang berbeda dengan yang lain, seorang anak perempuan yang sangat anggun, periang, namun tak banyak ulah. Suatu saat pernah salah seorang anak baru laki-laki masuk dari utusan kepala katanya berlaga seperti artis papan atas, putih, dan gendut bernama Mustafa mengganggu seorang Nidya, sehingga Nidya pun menceritakan pada diriku, langsung tanpa pikir panjang ku cari anak itu, anak yang sok-sok an berlaga orang metropol itu. Ingin sekali ku tendang rasanya namun, Nidya melarang diriku, ya apa boleh buat memang telalu baik seorang Nidya dia memang anak perempuan yang unik bagiku. Ingin kuungkapkan perasaanku kepada dirinya namun apadaya, diriku tak bisa, mungkin kan kusampaikan saat kuliah nanti.

Sekolah menengah kami merupakan sekolah negeri, terletak di sebelah utara kota metropol ini, setiap pagi lalu lalang mobil dan motor selalu memekakkan telinga. Sekolah yang diakui sebagai sekolah terbaik di Jakarta. Padahal jika perasaanku ingin kulontarkan "Ini hanyalah sekolah dengan casing Iphone isi Cross" Karena memang hanya luarnya saja yang tampak bagus padahal isinya hanyalah kepala dan anggota sekolah yang mengemis duit melalui lembaga pemerintah. Memang tidak adil rasanya, sekolah kami dipimpin oleh seorang ibu benama Yansa ia memang kelahiran darah sumatera, ibu kepala yang selalu memberikan pidatonya panjang lebar bahkan sampai temanku pingsan tetap dirinya semburkan omongannya itu di depan mic hitam di lapangan. Guru BK kami sbenarnya banyak namun hanya 2 yang terkenal sebagai ikon kegarangan guru, laki-laki dan perempuan. Bapak Rama dan Ibu Ina namanya, aku memang gemar ikut berbagai organisasi sampai suatu saat ku berikan proposal kepada beliau namun tak diizinkan tapi ada satu hal yang dapat membuat diri mereka mau menandatangani proposal itu yaitu amplop.

Orang-orang di dalam sekolah itu memang tampak baik dan berwibawa padahal tanpa diketahui, mereka meminta-minta dari kami. Pernah suatu saat ada anak kaya yang berlimpah ruah orang tuanya menghadap kepala sekolah mengatak "Ibu mau apa saja, saya kasih" itu ujar orang tua murid tersebut. Ya memang benar anak itu sangat diprioritaskan di sekolah, semua kebutuhannya dilayani, bahkan konsultasi saja kepala sekolah yang langsung melayani anak itu. Kasihan memang ada temanku bernama Doni ia anak yang sangat pintar Ranking satu didapatnya terus menerus namun tak ada apresiasi dari sekolah sementara anak kaya itu selalu dipamerkan kebaikannya di setiap pidato Bu Yansa itu.

Aneh memang namun apa daya aku tak kan membocorkan rahasia sekolah itu, cukup diriku saja yang tahu melihat teman-teman mendapat perlakuan yang berbeda dari pihak sekolah. Oleh karena itu kuhanya mampu menuliskan perasaan itu di laptop merah pemberian ayahku. Semoga saja pemerintah tahu akan ini.

Jumat, 10 Mei 2013

Nasib Pejuang Kita...

  Nasib Pejuang Kita
(Oleh: M Rayhan Sultan Deyis)
Inikah nasib pejuang kita? Salah satu dari segelintir orang yang berani maju ke medan tempur hanya untuk menggenggam Sang Saka Merah Putih... Dimana rasa terimakasih kita? cukuplah hanya dengan menghormati Sang Merah Putih dan belajar dengan giat demi pembangunan bangsa untuk menghargai mereka walaupun sebenarnya tak akan cukup untuk memmbalas budi mereka... Kita tidak perlu mempertaruhkan nyawa sementara mereka "MERDEKA ATAU MATI !!!"...

Selasa, 07 Mei 2013

Sebagai Generasi Penerus, Mana Rasa Nasionalisme Kita ?

Sebagai Generasi Penerus, Mana Rasa Nasionalisme Kita ?
(Oleh: M Rayhan Sultan Deyis)

Memang benar Indonesia merupakan negara maritim, memang benar Indonesia merupakan negara kepulauan, memang benar Indonesia merupakan negara agraris, memang benar Indonesia memiliki berbagaimacam budaya, memang benar Indonesia memiliki kesenian yang berbeda di tiap daerah, memang benar indonesia memiliki banyak bahasa, memang benar Indonesia memiliki kuliner yang beragam, memang benar Indonesia kaya, dan yang paling penting memang benar Indonesia merupakan Negara nan MERDEKA.

Merdeka! Merdeka! Merdeka! sebuah kata yang sangat menggebu-gebu, yang menjadi tujuan, harapan, serta cita-cita bangsa ini di masa lalu.... beratus-ratus tahun kita diserang, beratus-ratus tahun kita ditindas, beratus-ratus tahun kita diinjak, beratus-ratus tahun kita dibodohi, beratus-ratus tahun pula kita dijajah....

Merdeka atau Mati !!! Sebuah pilihan yang sulit, hanya agar dapat mengibarkan sang saka merah putih sebagai tanda Indonesia Merdeka...  Berapa banyak Darah, Nanah, Goresan, Tangis, Luka, yang dikorbankan para pejuang dulu,  tidak hanya memikirkan dirinya namun memikirikan kelanjutan bangsa ini.

Apakah kita tidak menyadari itu? kini kita dapat menikmati hasil jerih payah mereka dengan sombong, tanpa ada rasa terimakasih sedikitpun kepada mereka, saat upacara, bendera dikibarkan. bagi mereka ini suatu keharuan, kebanggaan, dan kehormatan, namun bagaimana sekarang ini, upacara berbicara, bergurau, bermain, tertawa, seperti tidak ada rasa hormat sedikitpun kepada mereka para pejuang kita, kaki mereka patah, badan mereka lemah tertembak peluru, mereka mengorbankan tubuh mereka demi kita !

Sejarah bukan untuk dihafal, sejarah bukan untuk dilupakan, sejarah bukan untuk dipelajari, Tetapi kita maknai dan renungi apa yang terjadi apabila sejarah itu tak terjadi....  Jika itu tak terjadi  mungkin kini kita hanya sebagai budak para penjajah atau orang tak berdaya di tepi jalan. Sekarang orang banyak hanya mementingkan otak, tapi mana orang yang mementingkan ahlak dan bangsanya?

Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus, seharusnya dapat menghormati perjuangan mereka, dan kita adalah calon-calon pemimpin bangsa, mau dikemanakan bangsa ini selain kita yang memegangnya.....

Jumat, 03 Mei 2013

Kemiskinan Menghambat Pendidikan



KEMISKINAN MENGHAMBAT PENDIDIKAN
Oleh: Muhammad Rayhan Sultan Deyis

Berdasarkan pengamatan saya, saya melihat masih banyak anak seusia bahkan dibawah saya yang di pekerjakan sehingga tidak dapat bersekolah penyebab utamanya adalah kemiskinan.
Arti kemiskinan adalah suatu keadaan ekonomi dan sosial yang dialami suatu keluarga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Organisasi Bank Dunia membedakan kemiskinan dengan membagi pengertian antara orang  miskin dan orang sangat miskin. Orang miskin ialah orang yang hidup dengan pendapat kurang dari Rp 18.000,00 per hari. Sementara orang sangat miskin ialah orang yang hanya memiliki penghasilan sekitar Rp 9.000,00 per hari.
Yang lebih memperihatinkan lagi kemiskinan ini juga menyebabkan anak Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan dan duduk di bangku sekolah.
Menurut hasil survey hingga bulan Maret 2010 ada sekitar 31,02 juta penduduk Indonesia yang menderita kemiskinan di Indonesia. Beberapa penyebabnya adalah:                  
1.         Tingkat pendidikan yang rendah
       Di Negara kita masih banyak anak yang belum bersekolah sekitar 80 persen anak Indonesia yang belum bersekolah karena keterbatasan ekonomi seharusnya anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan.

2.   Produktivitas tenaga kerja rendah
Karena keterbatasan ekonomi memaksa anak juga ikut menjadi tulang punggung   keluarga tidak selayaknya anak tersebut bekerja seharusnya anak seumur mereka duduk di bangku sekolah untuk menuntut ilmu.

3.         Tingkat upah yang rendah
Hal ini akan, menyebabkan pendapatan perharinya berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya secara tidak langsung hal ini juga dapat membuat anak mereka putus sekolah

4.         Distribusi pendapatan yang timpang
Pendapatan setiap daerah tidak merata contohnya kini di daerah Jawa banyak dilakukan pembangunan sementara di pelosok tidak dilakukan pembangunan karena hal tersebut menyebabkan lapangan kerja berkurang
 
5.         Kesempatan kerja yang kurang
Penyebabberkurangnya kesempatan kerja adalah karena pertumbuhan tenaga kerja tinggi, tetapi lapangan kerja sedikit dan kurangnya keterampilan pekerja.                                                                                                                         

6.   Kualitas sumber daya alam masih rendah                                                               
Hal ini juga berpengaruh,karena tidak semua tempat memiliki sumber daya alam yang kualitasnya baik sementara lapangan kerja di sekitar tempat tersebut memerlukan sumber daya alam yang kualitasnya sangat baik.

7.   Penggunaan teknologi masih kurang
Penggunaan teknologi tidak merata di beberapa daerah masih banyak penduduk yang belum menyadari tentang keberadaannya teknologi padahal teknologi sangat membantu dalam mencari lapangan kerja.

8.   Motivasi pekerja yang rendah
Dalam hal ini kemiskinan juga disebabkan oleh diri mereka sendiri mereka tidak memiliki semangat juang yang tinggi untuk merubah pendapatan mereka tiap harinya.

9.   Kultur/budaya (tradisi)
Kultur berpengaruh karena di berapa daerah memiliki tradisi salah satunya “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi” hal ini menyebabkan perempuan menjadi patah semangat dan tidak bersekolah.

10. Politik yang belum stabil
Hubungan masyarakat dan pemerintah belum stabil sampai sekarang masih terjadi konflik atau perselisihan antara pemerintah dengan masyarakat hal itu menyebabkan masyarakat dan pemerintah tidak saling mendukung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                        
Kemisikinan merupakan penyebab utama terhambatnya pendidikan seseorang, hal itu disebabkan oleh  semakin mahalnya biaya pendidikan saat ini, sementara penghasilan keluarga tidak cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, walaupun dimungkinkan untuk mendapatkan pengurangan/penghapusan biaya pendidikan namun tidak semua sekolah mempunyai fasilitas tersebut terutama untuk sekolah swasta.
Pada umumnya anak-anak miskin bersekolah di sekolah–sekolah swasta karena kemampuan akademis mereka terkadang tidak mencukupi untuk batas kelulusan untuk dapat memasuki sekolah-sekolah negeri. Sekolah negeri ada yang bebas biaya pendidikan. Untuk Sekolah Dasar dan Menengah masih dimungkinkan dimasuki oleh Anak-anak dengan penghasilan orang tua yang minim dengan bantuan oleh para donator yang peduli dengan pendidikan anak-anak, namun untuk jenjang Perguruan Tinggi tidaklah mudah terutama dengan alasan biaya pendidikan tersebut